Selasa, 31 Juli 2012

Tragedi 600 Tahun Muslim Indocina




REPUBLIKA.CO.ID,
Meski telah sekian lama mengenal Islam, dan selama 700 tahun menjalin kontak dengan pedagang-pedagang Muslim, orang-orang Champa relatif terlambat mengadopsi Islam sebagai sistem kepercayaan komunitasnya. Terdapat spekulasi, konversi besar-besaran ke dalam Islam merupakan cara paling memungkinkan bagi etnis Champa untuk memelihara hubungannya dengan nenek moyangnya di Malaysia. Terutama setelah mereka kehilangan kontrol atas nasib mereka akibat kekalahan dalam perang Annam-Champa.

Teks-teks sejarah Cina menginformasikan Kerajaan Champa berdiri tahun 192 SM. Saat itu sejumlah elite lokal dalam masyarakat Champa mulai memobilisasi massa, dan mengambil alih tanah-tanah kekuasaan Cina. Sebagai negara baru, Champa juga memperluas wilayah kekuasannya dengan kekuatan senjata. Mereka menganeksasi sejumlah wilayah kerajaan-kerajaan kecil, mengintegrasi paksa masyarakat di dalamnya, dan menciptakan ruang yang cukup untuk berkembangnya masyarakat mereka.
Pada saat bersamaa mereka membentuk identitas komunitasnya dari dua unsur yang berbeda. Di level elite, mereka mengadopso sistem monarkhi absolut gaya Hindu. Tapi di level massa, tidak banyak etnis Champa yang tersentuh produk budaya Hindu, dan lebih banyak mempraktekkan tradisi leluhur mereka.
Teks-teks sejarah Cina pertengahan abad X menyebutkan terdapat sejumlah bukti Islam telah hadir di tengah komunitas masyarakat. Salah satunya, terdapat catatan Kerajaan Champa tahun 951 dan 960 mengirim Pu Ho San (transliterasi Cina untuk Abu al Hasan) sebagai dubes untuk Cina. Pu Lo E, atau Abu Ah yang disebut-sebut memimpin 100 orang asing keluar dari Champa pada saat terjadinya kerusuhan internal. Serta cerita tentang Hu Xuan, atau Hussain, yang memimpin ekspedisi beranggotakan 300 orang ke utara Champa.
Catatan Simkin, pelajar dan petualang, menyebutkan kontak Champa-dunia Islam terjadi lebih awal dari yang disebut dalam teks-teks Cina. Menurutnya, setelah menaklukkan Kekaisaran Bizantium dan Persia, Kerajaan Arab-Muslim meningkatkan aktivitas perdagangannya ke Asia. Kesaksian ini diperkuat I-Ching, petualang Cina, ketika bepergian ke Sumatera dengan kapal Persia. Pada tahun 727, menurut I-Ching, sejumlah besar kapal-kapal Muslim merapat di pelabuhan Kwangchou (Kanton).
Tahun-tahun berikutnya, Muslim Cina menjadi komunitas yang paling aktif berdagang di kawasan Asia Tengara. Simkin mengatakan hampir di seluruh rute perdagangan terdapat pemukiman komunitas-komunitas Muslim, kecil maupun besar. Champa, yang termasuk rute perdagangan Muslim Arab, secara langsung bersentuhan dengan pengaruh Islam. Sejumlah artefak yang ditemukan para arkelolog membenarkan catatan Simkin. Bahkan, terdapa inskripsi Arabik bertahun 1039 di makam Abu Kamil yang makin memperkuat dugaan ini.
Tanpa harus memperdebatkan siapa yang pertama kali memperkenalkan Islam di Champa, banyak sarjana mengatakan Islam tidak pernah membuat kemajuan berarti di sini. Tidak ada Islamisasi di Champa selama periode 700 tahun sejak etnis ini berkenalan dengan sistem kepercayaan yang diajarkan Nabi Muhammad saw. Serta tidak ada bukti misi-misi Islam ke tanah suci Mekah selama waktu itu.
Islamisasi baru terjadi sekian tahun setelah kekalahan memilukan Champa atas bangsa Annam pada tahun 1471. Padahal, di kawasan Asia Tenggara saat itu sedang terjadi Islamisasi besar-besaran. Mulai dari Semenanjung Malaysia sampai ke Mindanao. Kapal-kapal saudagar Muslim juga secara reguler mengunjungi pelabuhan-pelabuhan di perairan Cina dan Timur Tengah.
Redaktur: M Irwan Ariefyanto
Reporter: teguh setiawan

sumber: [http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/05/25/m4kr0b-tragedi-600-tahun-muslim-indocina]

Artikel mengenai bangsa champa

http://sejarah.kompasiana.com/2011/11/25/sekilas-tragedi-sejarah-bangsa-champa/

www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/05/25/m4kr47-tragedi-600-tahun-muslim-indocina-ii

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/05/25/m4kr0b-tragedi-600-tahun-muslim-indocina

http://wasathon.com/jalan-jalan/read/ho_chi_minh_city_dan_muslim_champa_1/

http://wasathon.com/jalan-jalan/read/ho_chi_minh_city_dan_muslim_champa_2/

http://wasathon.com/jalan-jalan/read/ho_chi_minh_city_dan_muslim_champa_3/


Tragedi 600 tahun Muslim Indocina (II)

REPUBLIKA.CO.ID, Islamisasi masyarakat Champa terjadi serempak, mulai dari level atas sampai ke yang paling bawah. Tapi saat itu mereka tidak lagi memiliki negara. Mereka menjadi bangsa paria, papa, terlunta-lunta di tanah sendiri, dan terisolasi, setelah Kekaisaran Annam menganeksasi seluruh wilayah mereka. Untuk kali pertama dalam sejarah mereka, Champa menjadi bangsa diaspora. Banyak yang memutuskan meninggalkan kampung halaman mereka dan pindah ke Kamboja. Hanya sedikit saja yang memutuskan tetap bertahan di tanah leluhurnya.
Dari Kamboja, sebagian lainnya melanjutkan perjananan ke Thailand dan Malaysia. Mereka yang singgah di Kamboja selamanya relatif mampu beradaptasi dengan masyarakat setempat, dan memperoleh akses ke istana kerajaan. Sedangkan mereka yang tinggal di Vietnam semakin tertindas, terisolasi, dan bangsa Annam melarang mereka menggunakan bahasa dan menjalankan ibadahnya.
Sejarah mencatat selama lebih 600 tahun etnis Champa di Vietnam tidak pernah mampu keluar dari nasib buruknya sendiri; miskin dan bodoh. Namun dari sekian lama periode itu, masa 100 tahun terakhir mungkin yang paling menghancurkan etnis ini. Selama 50 tahun perang kemerdekaan Vietnam-Prancis mereka menjadi target kedua serangan kedua pihak karena posisinya yang tidak menguntungkan. Ketika AS masuk dan meramaikan Perang Indocina II, orang-orang Champa menjadi target asimilisasi pemerintahan Ngo Dien Diem dan Nguyen Van Thiew.
Rejim komunis di Hanoi bersimpati terhadap penderitaan mereka. Namun setelah komunis memenangkan perang, Hanoi kembali menjalankan politik isolasinya. Tapi Champa hanya satu dari 54 etnis minoritas di Vietnam lainnya. Di Kamboja, selama Perang Indocina II, masyarakat Champa sempat mengorganisir dirinya untuk kembali membangkitkan kejayaan masa lalunya. Tapi upaya ini gagal, dan mereka menjadi target pembantaian Khmer Merah.

Redaktur: M Irwan Ariefyanto
Reporter: teguh setiawan
sumber: [http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/05/25/m4kr47-tragedi-600-tahun-muslim-indocina-ii]

Jumat, 02 Maret 2012

Bashrah, Jejak Islam di Kota Kanal (2)

Senin, 27 Pebruari 2012 17:44 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Di antara sederet sarjana dan ilmuwan Muslim yang terlahir dari Kota Bashrah itu, antara lain Abdul Malik bin Quraib Al-Asma'i (739 M-831 M), seorang ahli zoologi yang sangat terkenal; Abu Bakar Muhammad bin Al-Hasan bin Duraid, geogafer dan genealog kondang; Al-Jahiz (776 M-868 M), sastrawan Islam klasik yang kesohor; serta Ibnu Al-Haitham (965 M-1039 M), seorang fisikawan fenomenal.

Selain itu, di pusat intelektual itu juga hidup ahli tata bahasa Arab terkemuka seperti Sibawaih dan Al-Khalil bin Ahmad. Beberapa ahli sejarah terkemuka pun ternyata terlahir di kota itu, seperti Abu Amr bin Al-Ala, Abu Ubaida, Al-Asmai, serta Abu Hasan Al-Madani. Selain memiliki sastrawan kondang seperti Al-Hijaz, dari Bashrah juga lahir beberapa sastrawan seperti Ibnu Al-Mukaffa dan Sahl bin Harun.

Kota yang dikenal sebagai penghasil kurma berkualitas tinggi itu didirikan oleh umat Islam pada 636 M, era kepemimpinan Khalifah Umar bin Khathab. Pada tahun itu, pasukan tentara Islam yang mulai melakukan ekspansi di bawah komando Utba bin Ghazwan berhasil menaklukkan wilayah itu dari kekuasaan Kerajaan Sasanid. Di daerah yang awalnya bernama Vahestabad Ardasir itu, pasukan Islam berkemah.

Umat Islam lalu menjadikan daerah itu sebagai basis pertahanan saat melawan Imperium Sasanid. Sejak itu, wilayah itu pun diberi nama Bashrah (bahasa Arab) yang berarti 'mengawasi' atau 'memantau'. Dari wilayah itulah, pasukan tentara Islam memantau pergerakan militer Sasanid.  Versi lain menyebutkan, kata 'Bashrah' berasal dari bahasa Persia Bas-rah atau Bassorah. Kata al-Bashrah biasa pula berarti 'batu kerikil hitam'.

Secara resmi pada 639 M, Khalifah Umar menjadikan Bashrah sebagai ibukota provinsi dengan wilayah kekuasaan meliputi lima daerah. Abu Musa Al-Asy'ari ditunjuk sebagai gubernur pertama Bashrah. Setelah itu, dari masa ke masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin yang berpusat di Madinah mengangkat gubernur untuk Bashrah.

Dari tahun ke tahun, Bashrah tumbuh sebagai sebuah kota. Pada 771 M, Ziad bin Abi Sufyan mulai mengembangkan Bashrah menjadi kota yang besar. Kota itu pun dengan cepat berkembang menjadi sebuah metropolis dunia yang terkemuka pada abad ke-8 M. Pada abad itulah, Bashrah mencapai puncak kejayaannya. Jumlah penduduknya pun mencapai 200 ribu hingga 600 ribu jiwa.

Selain menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan, Bashrah juga telah berkembang menjadi salah satu metropolis besar dan pusat perdagangan yang kesohor. Salah satu sumber mata pencaharian rakyat Bashrah adalah pertanian. Kota yang memiliki tujuh pelabuhan besar itu menjadi tempat persinggahan pada saudagar. Yang menarik bagi para saudagar dari berbagai belahan dunia, yakni Pelabuhan Bashrah bisa disinggahi kapal-kapal besar.

Rabu, 29 Februari 2012

Bashrah, Jejak Islam di Kota Kanal (1)

REPUBLIKA.CO.ID, Suatu hari Abdullah bin Umar menjenguk Ibnu Amir, Gubernur Bashrah, yang sedang terbaring sakit. "Tidakkah engkau mendoakan kebaikan untukku kepada Allah, wahai Ibnu Umar?"tanya Ibnu Umar.

"Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Tidak diterima shalat tanpa bersuci, demikian juga sedekah dari harta rampasan (hasil korupsi).' Sedangkan, engkau sekarang ini menjadi penguasa Bashrah," jawab Abdullah bin Umar memberi nasihat.

Kisah dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim itu tercantum nama "Bashrah". Menurut Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas Hadith al-Nabawi, Bashrah merupakan sebuah kota di pinggiran Sungai Syath Al-Arab, setelah pertemuan Sungai Tigris dan Eufrat di Desa Al-Qurnah. "Kota itu adalah daerah reruntuhan di selatan muara Sungai Tigris dan Eufrat," ujar Dr Syauqi.

Menurut dia, Bashrah didirikan atas perintah Khalifah Umar bin Khattab. Uthbah bin Ghazwan Al-Manaziy memilih kota itu sebagai titik penyerangan ketika pasukan tentara Islam akan menaklukkan Ebola, Misenia, Ahwaz, dan Persia.

Nama Kota Bashrah tercantum dalam hadits tentang perjalanan manusia di hari kiamat. "... Lalu Allah menjawab, "Wahai Muhammad, masuklah ke surga dari umatmu yang tidak terkena hisab melalui pintu surga sebelah kanan. Mereka adalah sekelompok manusia yang dapat masuk dari pintu itu!" Demi jiwaku yang ada di kekuasaan-Nya, sesungguhnya jarak antara dua daun pintu dari pintu-pintu surga itu seperti jarak antara Makkah dan Hijr atau seperti antara Makkah dan Bashrah." (HR Muslim).

Selain dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Bashrah juga disebut dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi, serta Nasa'i. Lalu di manakah Kota Bashrah itu berada? Bashrah adalah sebuah provinsi di Irak. Kota itu dijuluki Venesia Timur Tengah. Kota yang memiliki sejumlah terusan (kanal) itu memiliki peranan yang terbilang sangat penting dalam sejarah awal Islam.

Terletak di sepanjang Sungai Shatt Al-Arab dekat Teluk Persia, Bashrah sempat menjelma menjadi kota metropolis peradaban dan perdagangan di era Kekhalifahan Abbasiyah. Ketika Baghdad—ibukota Dinasti Abbasiyah—mencapai kejayaannya, pada saat yang bersamaan Bashrah pun tumbuh menjadi kota penting dalam peradaban Islam. Kota Bashrah yang berjarak 545 kilometer dari Baghdad itu mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-8 M.

Tak heran jika Bashrah bersaing menjadi kota metropolis peradaban dan intelektual dengan Baghdad pada era keemasan Islam. Sederet ilmuwan terkemuka yang telah mengharumkan nama Islam terlahir di Bashrah. (republika.co.id